Senin, 10 November 2014

Black Coffee

Dentingan bel menyambut saat tangannya mendorong kenop pintu sebuah kedai kopi yang cukup familiar di suatu distrik. Senyum simpul pun turut menyapanya dari pojok kursi dekat jendela. Dengan segera, kedua tungkainya bergerak menghampiri si pemilik senyum hangat yang menyapanya barusan.

"Kamu sudah di sini rupanya." tangannya terulur untuk menarik kursi di hadapan perempuan yang menyunguhinya senyum tadi. Lekas ia duduk dan tak lupa membalas senyum tersebut.
"Tentu saja, aku tidak pernah terlambat sepertimu." ucapnya sambil menyesap kopinya.
"Maafkan aku, tadi ada sedikit hal di kantor yang harus diselesaikan."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti, kesibukanmu makin hari makin bertambah."
Setelah itu, pria yang datang terlambat memesan kopi kepada pelayan. Ia melirik cangkir di depannya, milik perempuan yang berada di depannya.

Jumat, 25 Juli 2014

Cappuccino

"Sekarang aku tahu apa itu cinta."

Mada menatapku. Hampir saja secangkir cappuccino yang hendak diminumnya tumpah mengenai kemeja, meninggalkan serbekas noda berawarna cokelat yang pasti tidak mudah untuk dibersihkan.

"Cinta itu seperti," sengaja kuhentikan perkataanku, memancing rasa penasaran lelaki di hadapanku. "Cappuccino." tambahku.

"Cappuccino?" Mada menaikan sebelah alisnya. Menuntut penjelasan lebih atas argumen yang kulontarkan padanya. Kusodorkan secangkir cappuccino miliknya. Bibirnya menempel lembut di ujung cangkir. Menikmati tiap tegukannya, kembali larut dalam hangatnya cairan berawarna cokelat itu, membiarkan indera perasanya bekerja akan hal ini. Meninggalkan sedikit buih coffee disisi bibirnya.

"Bagaimana rasanya?"

"Manis, sedikit rasa pahit disana. Tapi aku menyukainya." ujarnya lalu kembali larut dalam cappuccino itu.

Sabtu, 19 April 2014

17!

"Tujuh Belas"
Apa yang spesial dari "Tujuh Belas" ini?
Seperti biasanya, orang mengucapkan, memberi doa, memberi kado dan lain-lain.
Tidak ada yang lebih.
Tidak ada yang kurang.
Tapi aku tahu satu hal,
Doa itu adalah kado yang paling manjur.

Setiap tahun aku tidak pernah meminta apa pun.
Tapi setiap tahun juga aku selalu merasa aku tidak ingin berulang tahun.
Iya, berulang tahun.
Karena berulang tahun itu sama saja dengan berkurangnya umur.
Tapi aku mencoba menikmati, mencoba mensyukuri,
Karena aku masih diberi umur hingga detik ini.

Sepengetahuan ku
"Tujuh Belas" itu kita sudah beranjak dewasa
Dan sudah mulai mengerti tentang sisi-sisi kehidupan.
Tidak menyenangkan mungkin,
karena kita belum siap untuk menyelesaikan masalah yang menerjang.
Jadi, bersabarah dalam menghadapi suatu masalah
Dan mulai berpikir secara mandiri.

Apa lagi yang ada di dalam "Tujuh Belas" ini?
Oh iya, mendapati KTP alias Kartu Tanda Penduduk
Bukan Kartu Tanda Pacaran. Haha!
Dan di "Tujuh Belas" ini sepertinya akan mendapat SIM juga,
dan bisa memilih capres, caleg, atau sebagainya.

Well,
"Tujuh Belas" ini tidak selalu mengasikan,
tidak selalu menyedihkan.
Jalani saja.
Syukuri apa yang ada selagi kita bisa.

Minggu, 06 April 2014

Bintang

Bintang telah mempertemukan kita
Saat kita pertama kali bertemu di Bosscha
Dan saat pertama bertemu,
Kamu menebak namaku dengan tepat
Aquila, seperti rasi bintang yang berarti elang

Matamu yang hazel menatapku penuh kehangatan
Dengan senyum yang mungkin bisa membuat para wanita terpana
Dan tanganmu yang lembut menjabat tanganku yang mungil

Kamu menceritakan beberapa rasi bintang yang kamu suka
Aku hanya menatapmu selama bercerita
Menatap wajahmu yang penuh dengan ekspresi

Ketika matamu melihat mataku
Bertemu di satu titik yang sama
Aku merasa matamu seperti Sagitta
Yang menusuk di mataku, juga hati
Sagitta, rasi bintang yang berarti anak panah

Mungkin kejadian ini pun akan seperti Sagitta
Yang memanah otakku
Dan otakku sudah di kelilingi oleh Scutum
Rasi bintang yang berarti perisai
Yang akan melindungi otakku dari Sagitta lainnya

Bulan Sabit

Setiap malam, jika bulan sabit muncul
Aku selalu mellihatnya di taman dekat rumah
Diringi suara petikan gitar yang entah darimana
Tapi, suara petikan gitar itu selalu ada saat bulan sabit muncul

Ketika bulan purnama muncul
Aku iseng melihatnya di taman dekat rumah
Tapi suara petikan gitar itu tidak terdengar lagi

Dan ketika bulan sabit itu muncul lagi setelah sekian lama
Karena adanya hujan,
Tiba-tiba kau muncul membawa gitar
Di bawah sinar bulan sabit yang hanya terpancar sedikit
Kamu tersenyum ke arahku
Dengan gigi berderet rapi dengan mata sipit seperti bulan sabit

Kini aku tahu siapa yang selama ini memetik gitar
Saat bulan sabit ada di langit
Itu kamu, pria dengan mata sipit seperti bulan sabit jika tersenyum

Aku tahu mengapa kamu hanya muncul saat bulan sabit ada
Karena mata sipitmu itu jika tersenyum terlihat seperti bulan sabit
Aku suka bulan sabit
Aku pun sepertinya suka matamu yang jika tersenyum terlihat seperti bulan sabit
Tapi sepertinya aku bukan hanya menyukai matamu saja yang terlihat seperti bulan sabit itu

Senja

Senja selalu indah
Seindah saat hari-hariku bersamamu

Setiap senja kita selalu berjalan bersama di tepi pantai
Dengan hembusan angin yang menerpa tubuh
Dengan suara ombak yang bergemuruh

Setiap hari kau menceritakan segala yang kamu alami
Begitu pun aku

Aku selalu suka saat kamu tertawa
Dengan lesung pipi dan matamu yang menjadi sedikit sipit
Aku pun selalu suka saat kamu menggengam tanganku
Hangat
Penuh dengan rasa sayang

Aku berharap bisa selalu bersamamu
Mengulang kebiasaan kita seperti ini
Di bawah senja yang indah