Dentingan bel menyambut saat tangannya mendorong kenop pintu sebuah kedai kopi yang cukup familiar di suatu distrik. Senyum simpul pun turut menyapanya dari pojok kursi dekat jendela. Dengan segera, kedua tungkainya bergerak menghampiri si pemilik senyum hangat yang menyapanya barusan.
"Kamu sudah di sini rupanya." tangannya terulur untuk menarik kursi di hadapan perempuan yang menyunguhinya senyum tadi. Lekas ia duduk dan tak lupa membalas senyum tersebut.
"Tentu saja, aku tidak pernah terlambat sepertimu." ucapnya sambil menyesap kopinya.
"Maafkan aku, tadi ada sedikit hal di kantor yang harus diselesaikan."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti, kesibukanmu makin hari makin bertambah."
Setelah itu, pria yang datang terlambat memesan kopi kepada pelayan. Ia melirik cangkir di depannya, milik perempuan yang berada di depannya.
"Black coffee lagi? Apa ada masalah sehingga kau tiba-tiba memintaku untuk menemanimu disini?" ucap pria itu dan spontan menatap dengan serius kepada perempuan yang duduk di hadapannya.
"Tidak ada. Tidak selalu ada masalah jika aku meminum black coffee."
"Benarkah? Karena biasanya kau seperti itu."
"Hei! Kau memperhatikan kebiasaanku? Sejak kapan?"
"Tentu saja. Aku ini orang yang selalu menemanimu saat kau sedang suka dan duka. Apa kau tidak menyadarinya, Nona?"
"Tidak, aku jelas menyadari itu. Tapi maksudku sejak kapan kau memperhatikan itu, Tuan?"
"Sudah lama. Jelas saja, lebih dari 5 tahun lebih kita kenal."
"Jadi apa saja yang kau tahu tentang aku?"
"Banyak. Banyak sekali. Salah satunya kebiasaan burukmu jika sedang ada masalah. Meminum black coffee." Perempuan itu hanya menatap pria tersebut dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Tak lama kemudian pesanan pria itu pun datang. Ia menyesap minuman yang dipesannya.
"Apa kau tahu? Black coffee itu seperti hubungan kita." ucap pria itu sambil menatap gelasnya.
"Maksudmu? Aku tidak mengerti."
Pria itu diam sejenak. "Ah... kau tidak menyadarinya. Aku tahu akan itu. Sudah lupakanlah."
Hening. Itu yang terjadi setelah pria itu berkata bahwa black coffee seperti hubungan mereka.
"Maafkan aku," ucap wanita itu lirih.
"Maaf untuk apa? Kau tida punya salah."
"Untuk hal ini. Hubungan kita. Black coffee. Maafkan aku."
"Tidak usah dipikirkan. Aku bisa mengerti dengan keadaanmu."
"Tapi ini sudah lama. Apa kau tidak merasa lelah? Apa kau tidak ingin mencari wanita lain?"
Pria itu menatap wajah perempuan didepannya dengan serius.
"Tentu saja tidak. Sudah selama ini aku menunggu, dan aku menyerah begitu saja? Aku bukan tipe seperti itu."
Perempuan itu menatap wajah pria di hadapannya. Ia menatap kesungguhan dari bola mata pria itu. Ia tersenyum kepadanya. Selalu ada rasa nyaman yang datang saat bersamanya. Tapi perempuan itu tidak bisa, lebih tepatnya belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk pria itu. Dan ia tidak menyadari bahwa ia sebenarnya jatuh cinta, bahkan sayang sekali kepada pria yang ada di hadapannya.
"Sudah tidak usah dipikirkan. Aku lebih senang kau menjalani semuanya seperti biasa. Tidak terbebani." ucap pria itu yang kemudian mengelus tangannya.
"Terimakasih kau telah mengerti aku hingga saat ini, Reuben."
"Tak usah seperti itu. Ini sudah tugasku, maksudku memang aku harus begitu. Mengerti keadaanmu, Carmine."

Tidak ada komentar :
Posting Komentar