Kini aku tak tahu keadaanmu bagaimana. Aku tak tahu kau tinggal dimana. Setelah sekian tahun tidak bertemu, mungkin kau akan lupa akan wajah anakmu. Terakhir kau mengirimkan surat padaku, saat aku berumur 12 tahun. Kini usiaku sudah menginjak 17 tahun. Sudah lama sekali, bukan? Iya, hari ini aku ulang tahun. Apa kau ingat? Dulu jika ulang aku berulang tahun, kita merayakannya secara kecil-kecilan. Setelah kau pisah dengan Ibu, saat aku berulang tahun kau mengirmkan kado dan sebuah kartu ucapan. Tapi sealama 5 tahun kebelakang, aku tidak pernah mendapatkan itu lagi. Apa kau tidak ingat?
Tidak lama aku merenungkan semua itu, ada sebuah paket kiriman datang. Saat aku membukanya, paket itu berisikan kartu ucapan dan koran lama. Awalnya aku bingung kenapa isi paket itu berisikan kartu ucapan dan koran lama di Kota Ayah? Aku tak mempedulikannya. Aku mulai membaca kartu ucapan tersebut. Kartu itu bertuliskan
Selamat ulang tahun anakku! Semoga di umur ke 17 ini kamu akan selalu dewasa dan tak lupa untuk bersyukur kepada Tuhan karena masih memberimu umur hingga sekarang. Jadilah anak yang baik, dan kejarlah cita-citamu. Maafkan Ayah selama ini tidak pernah mengirimmu kabar dan tidak pernah mengirimmu lagi hadiah beserta kartu ucapan. Dan maafkan Ayah, karena kali ini, Ayah hanya bisa memberi koran lama ini. Kamu bisa membaca koran ini halaman 7. Sekali lagi selamat ulang tahun anakku tersayang!
Lalu aku mulai membuka koran lama tersebut. Aku buka halaman 7 dan aku menemukan berita bahwa ada seorang pria berumur 42 tahun meninggal karena tertembak saat terjadi perampokan di tokonya. Aku menangis sejadi-jadinya. Padahal aku selalu berharap bisa bertemu lagi dengamu suatu saat nanti, meskipun kau dan Ibu telah berpisah. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Andai saja 5 tahun kebelakang aku menengokmu sesekali meskipun dari kotaku ke kotamu harus menempuh waktu selama 6 jam. Aku menyesal. Sungguh aku menyesal. Aku hanya bisa menangis sambil menggengam koran tersebut. Dan kini jika aku rindu, aku hanya bisa menatap foto lamamu, Ayah.
Selamat jalan Ayah, semoga kau diterima di sisi Tuhan. Maafkan aku Ayah karena dulu aku tak pernah menengokmu. Minggu depan, aku akan kemakam Ayah meskipun aku tak tahu, tapi akan mencari tahu dimana makam Ayah. Aku selalu doakan Ayah. Aku selalu merindukanmu, Ayah. Dan selamat hari Ayah, aku menyayangimu selamanya!
Tidak ada komentar :
Posting Komentar