Lonceng yang sengaja dipasang di pintu, berdenting. Suara dentingannya membuatku tersenyum. Selama seminggu akhirnya pria itu datang lagi ke kedai kopiku. Temanku Aiana, yang menjaga kasir menanyakan pesanan kepadanya. Dan pria itu menjawab “Mochaccino,” kopi itu yang selalu ia pesan.
Aiana meneriakan pesanannya dan aku pun segera membuatnya. Dan entah kenapa tanganku tiba-tiba memasak pancake ice cream chocolate untuknya. Memang ada menu itu di kedaiku tapi ia tak memesannya. Kuberikan pesanan itu lewat jendela kecil kepada Aiana. Tanpa bertanya, ia memberikannya kepada pria tersebut. Karena merasa aneh pria tersebut berkata “Aku tidak memesan pancake ini. Apakah kau salah tulis?”
Dengan santainya Aiana menjawab “Oh, pancake itu memang special untukmu. Dari koki di kedai kami. Selamat menikmati.”
Pria tersebut hanya menatap lurus kearah pancake. Tak ambil pusing, ia segera menyesap kopinya. Mungkin, karena penasaran, ia mencicipi pancake buatanku. Tak ada respon apa pun yang terlihat dari wajahnya tapi, ia memakan pancake itu hingga habis. Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi. Karena aku mulai sibuk membuat kopi dan makanan lainnya untuk para pelanggan.
Saat aku sedang bersantai, karena belum ada lagi pesanan, Aiana memasuki dapur.
“Vela, sepertinya pelanggan setiamu sekaligus orang yang kau sukai ingin bertemu denganmu.”
Aku hanya menatap Vela, tak percaya. “Apa kau serius?”
“Tentu saja aku serius. Dia sudah menunggumu, menunggu kau tak sibuk membuat pesanan.”
Aku merapikan rambutku terlebih dahulu. Lalu menghampiri seseorang yang dimaksud Aiana. Seketika rasa gugup menghampiriku. Pria itu menatapku, dan aku tersenyum kecil kearahnya.
“Duduklah,” ucapnya kepadaku. Dengan rasa sungkan, aku pun duduk dihadapannya.
”Apakah kau koki di kedai ini?” tanyanya lagi.
“Be-benar. Aku orangnya.”
“Kau tahu, aku sangat menyukai kopi buatanmu. Dan untuk pancake tadi terima kasih banyak. Itu rasanya enak sekali!”
”Senang rasanya jika kau menyukai kopi dan pancake buatanku.“
“Sedaritadi kita belum berkenalan. Namaku Mikha Angelo. Namamu?”
“Namaku Vela Tainn.”
“Oh iya, bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Jika boleh, silahkan masukan sendiri nomor ponselmu di ponselku.”
Aku pun mengambil ponsel itu dari tangganya, lalu memasukan nomer ponselku.
“Ingin sekali aku mempunyai koki sepertimu, koki pribadi. Nikmat rasanya jika setiap aku pulang kerja disuguhi Mochaccino.”
Aku hanya memandangnya. Tidak tahu harus berkata apa.
“Lusa aku akan mampir ke kedai kopi ini lagi. Dan aku ingin kau menyiapkan dessert yang special untukku lagi. Jika bisa kau suguhi aku dengan dessert yang tidak ada di dalam menu. Sampai jumpa!”
Ia meninggalkanku sendirian, yang sedang memahami semua perkataanya. Apakah ini awal dari semuanya?

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
BalasHapusTulisan yang menarik. :)
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬