Jumat, 25 Juli 2014

Cappuccino

"Sekarang aku tahu apa itu cinta."

Mada menatapku. Hampir saja secangkir cappuccino yang hendak diminumnya tumpah mengenai kemeja, meninggalkan serbekas noda berawarna cokelat yang pasti tidak mudah untuk dibersihkan.

"Cinta itu seperti," sengaja kuhentikan perkataanku, memancing rasa penasaran lelaki di hadapanku. "Cappuccino." tambahku.

"Cappuccino?" Mada menaikan sebelah alisnya. Menuntut penjelasan lebih atas argumen yang kulontarkan padanya. Kusodorkan secangkir cappuccino miliknya. Bibirnya menempel lembut di ujung cangkir. Menikmati tiap tegukannya, kembali larut dalam hangatnya cairan berawarna cokelat itu, membiarkan indera perasanya bekerja akan hal ini. Meninggalkan sedikit buih coffee disisi bibirnya.

"Bagaimana rasanya?"

"Manis, sedikit rasa pahit disana. Tapi aku menyukainya." ujarnya lalu kembali larut dalam cappuccino itu.

"Itu lah cinta." wajah Mada tampak semakin bingung. Alisnya bertaut, sedang mencerna maksud kalimat yang tak kurang semenit lalu meloncat keluar dari mulutku.

"Bukankah cappuccino sangatlah manis? Memberikan efek secercah kebahagiaan saat rasa manis itu menempel begitu saja. Namun, kamu perlu berusaha bahkan melakukan pengorbanan untuk mendapatkan secangkir cappuccino." Aku menghela napas sejenak, sebelum kembali melanjutkan kalimatku yang belum sepenuhnya terlontar. Memberi sedikit waktu untuk Mada mencerna tiap kalimatku.

"Tapi, tidak semuanya terasa manis. Terkadang rasa manis itu akan terasa samar-samar dan yang muncul hanyalah rasa pahit. Bukankah itu yang kau rasakan tadi? Keduanyalah yang membuat cappucino itu disukai, bahkan sebagian orang kecanduan padanya dan sebagian yang lain menghindari demi alasan kesehatan, rasa yang aneh saat cairan cokelat itu memasuki kerongkongan, dan berbagai alasan konyol lainnya. Begitu juga dengan cinta." Aku tersenyum, setidaknya aku tak memiliki hutang penjelasan soal cinta pada Mada. Dapat kulihat ia hanya terdiam, tangannya masih sibuk mengaduk-aduk cappuccino yang sudah hampir seperempat bagian tersisa. Cappuccino adalah favoritnya.

"Darimana kau belajar semua itu? Siapa yang mengajarimu? Mikha? Atau Reuben?" Akhirnya Mada berbicara, memecah semua keheningan dengan suara berat khas dirinya. Kini manik matanya menatapku. Seakan tak percaya pada semua kalimat yang muncul dari bibirku tanpa secarik teks di tangan, ataupun sontekan kalimat yang kutulis di telapak tangan seperti saat pidato pekan olahraga sekolah bulan lalu.

"Kau." jawabku singkat. Mada membelalakan matanya.
Hei, adakah yang salah dengan jawabanku?

"Maksudmu?" Mada kembali bertanya.

"Kau, seorang Mada Emmanuelle. Semua argumenku tentang cappuccino itu tak sengaja kutangkap dari dirimu, lalu-"

"Kau tidak sedang menyatakan perasaanmu, bukan?" Pertanyaan Mada lagi-lagi muncul, membuat perkataanku berhenti sebelum di akhir.

Aku menggelengkan kepala. Mengolah tiap kata yang kutangkap pendengaranku lalu berharap semoga otakku ini masih dapat menerima sedikit pekerjaan.
Apa yang dia bilang? Menyatakan cinta? Siapa? Oh Tuhan, kembalikan otakku seperti semula.

Mada tertawa keras, cukup keras hingga membuat pengunjung cafe memandang risih ke arah kami, membuat seorang pekerja menumpahkan cappuccino di meja bar karena terkejut dengan suara Mada. Semenit kemudian Mada kembali normal, wajahnya kini kembali serius, fokus padaku. Membuatku mendadak lupa bagaimana cara bernapas, manik matanya seakan menghipnotisku.

"Baguslah jika begitu, bukankah tidak etis jika wanita dahulu yang menyatakannya." Tangan halus Mada mengelus lembut punggung tanganku. Membuatku seketika merasakan panas di pipi dan kuyakin wajahku kini sudah memerah seperti tomat.

"Maksudmu? Aku tak mengerti." Aku menaikkan sebelah alis, menirukan cara bicara Mada sebelumnya.

"Aku mencintaimu." Mada berkata dengan lembut, tangannya memegang erat tanganku. Ini sangat membingungkan.

"Bukan itu Mada, yang kumaksud perkataanmu sebelumnya, bukan aku men-"

"Gotcha! Kau mencintaiku juga kan?"

"Tidak, bukan itu maksudku."

Aku menundukan kepalaku. Aku terdiam. Dia masih menunggu.

"Hei, mengapa kamu terdiam? Kamu harus menjawabnya."

Tiga menit, lima, sepuluh... atau lebih? Otakku bekerja keras memikirkan jawaban, antara 'ya' atau 'tidak' dan ini sulit untukku. Bukankah baru semalam aku mengerti apa-itu-cinta? Dan sore ini? Secepat itu kah cinta datang?

"Mada?"

"Hmmm?" Dia meminum cappuccino yang tersisa miliknya. Aku menggigit bibir bawahku, menghilangkan sedikit rasa canggung terhadapnya.

"Aku menyukai cappuccino walau chocolate latte lebih enak menurutku, dan-" Aku menarik napas, kembali meyakinkan diriku kembali. "Aku menyukaimu, aku mencintaimu."

"Aku tahu, tak ada yang dapat menolak pesona Mada Emmanuelle." Dia terkekeh. Dia berpindah tempat, duduk di sebelahku. Lalu dia memelukku. Hangat. Membiarkanku menghirup aroma parfumnya.

"Hei, sejak kapan kau percaya diri seperti itu? Kau belajar darimana? Mikha? Atau Reuben?"

"Tentu saja Mikha." ucapnya sambil tertawa. Aku pun ikut tertawa, masih di dalam pelukannya. Dan seketika tercium aroma cappuccino. Dan aroma cappuccino lah yang selalu membuat keadaan semakin nyaman.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar