"Sudah aku duga! Kau berada di atas sini." ucap seorang wanita yang menghampiri seorang pria.
Pria itu hanya tersenyum menatapnya sembari memetik senar gitarnya. Ya, seperti biasa, pria itu duduk di atas bangunan kantor Papanya. Melihat pemandangan Ibu Kota saat malam hari. Dan ia selalu membawa gitarnya. Gitar lebih berharga baginya dari barang apapun.
"Cuaca sedang tak bersahabat, apa kau tidak merasa dingin menggunakan baju tipis seperti ini?" Tanya wanita tersebut sambil menghangatkan badan dengan dekapan kedua tangannya.
"Hm, tidak. Justru ini sangat sejuk." Pria itu kembali memetik senar gitarnya, membunyikan beberapa nada.
"Apa kau kedinginan?" Tanya pria itu sambil menatap perempuan yang duduk di sampingnya.
"Tentu saja. Aku sedang berusaha menghangatkan tubuhku." Pria itu tertawa kecil, menatap wanita yang di sampingnya, lalu menaruh gitar di sampingnya. "Mendekatlah," ucapnya.
Wanita itu awalnya merasa bingung. Kemudian dia menurut, mendekati pria tersebut. Dan tidak terduga, pria tersebut memeluk wanita itu. Seketika jantung perempuan tersebut berdetak dua kali lebih cepat, dan ia merasa pipinya mulai memanas.
"Bagaimana? Sudah hangatkan?" Tanya pria tersebut.
"Su-sudah. Terima kasih."
Pria tersebut masih mendekapnya, merasakan aroma perempuan tersebut. Begitu juga sebaliknya. Dan mereka bisa saling merasakan detak jantung yang berdetak tidak normal. "Aku menyayangimu." Bisik pria tersebut. Wanita itu pun membalas "Aku pun menyayangimu." Lalu mereka pun melepaskan pelukannya. Saling menatap satu sama lain untuk beberapa detik.
"Sebaiknya kita turun ke bawah. Aku tidak mau kau sakit ketika aku lamar." Wanita itu menatapnya dengan lekat. "Jadi kau bersunguh-sunguh? Ingin melamarku?" Tanya wanita itu menyelidiki.
"Tentu saja. Aku bersungguh-sunguh." Jawab pria itu penuh keyakinan.
"Lalu kapan kau akan melamarku? Besok? Lusa? Kapan?"
"Untuk itu aku belum membicarakannya lagi dengan Papa dan Mama."
Ada sedikit rasa kecewa yang menjalar di hati wanita itu. Namun ia masih berusaha untuk tersenyum.
"Baiklah. Kau bicarakan dulu dengan Papa dan Mamamu. Jangan terlalu buru-buru."
Setelah itu merekapun menuruni tangga. Meninggalkan gitar itu sendirian di atap kantor tersebut.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••
Keesokan harinya, saat pagi hari wanita itu diberi kabar oleh pria bahwa, saudara dari pria tersebut ada yang berulang tahun.
Malam-pun tiba, wanita itu sedang sibuk di kamarnya merias wajahnya yang sebenarnya sudah cantik tanpa menggunakan make-up. Handphonenya berdering, pertanda ada sebuah pesan. Ia membacanya singkat. Ternyata pria tersebut sudah menunggunya di ruang tamu. Wanita tersebut segera mempercepat gerakannya yang sedang bersiap-siap. Setelah selesai, ia turun ke bawah menemui sang pria.
"Ayah dan Ibumu kemana?"
"Mereka sedang ada acara reuni bersama teman-temannya."
"Sudah siap? Ayo kita berangkat!" Wanita itu mengangguk, kemudian memeluk tangan kiri prianya itu.
Setelah sampai, mereka pun berjalan memasuki gedung. Acaranya sudah ramai, namun tak terlihat seperti pesta ulang tahun. Acara itu seperti pesta pernikahan. "Kamu tunggu di sini sebentar, aku akan menemui saudaraku." Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
"Para tamu undangan yang terhormat, acara ini akan segera dimulai. Dimana seorang pria akan melamar seorang wanita." Ucap pembawa acara.
Kemudian terlihat seorang pria menaiki panggung, sang wanita pun mengerjapkan matanya. Ia melihat sang kekasihnya berdiri di atas panggung. Kemudian sang pria berbicara panjang lebar. Wanita itu terkejut. Semua mata tertuju kepadanya. Ia mendengarkan semua cerita yang prianya ceritakan dengan seksama. Ia tak menyangka sang pria akan melakukan semua ini.
"Hari ini, pada tanggal 6 Februari, aku akan melamarmu, kekasihku. Yang selama ini selalu berada di sisiku. Apakah kau mau menjadi Ibu dari anak-anakku nanti?" Ucap sang pria sambil berjalan mendekati sang wanita. "Menjadi seseorang yang nemaniku setiap detik, setiap hari, setiap minggu, bahkan selamanya sampai akhir hayat memisahkan kita. Apakah kau mau?"
Perempuan itu menahan air matanya yang sudah terbendung dikelopak matanya. Perempuan itu mengangguk kecil. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan. Pria itu pun memasukan cincin ke jari tengah sang wanita.
"Kau menyebalkan! Merencanakan semua ini secara diam-diam." Pria itu hanya tertawa kecil melihat wanitanya itu memarahinya. "Ibu dan Ayah pun tak memberi tahukan semua ini. Kalian semua bersekongkol rupanya. Menyebalkan."
"Tapi kau senang kan? Aku hanya ingin memberi kejutan kepadamu. Ini ide dari Ayahmu."
Wanita itu pun memeluk pria yang berdiri di depannya. Kemudian pria itu melepas pelukannya, lalu mencium lembut bibir wanitanya.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar