Setiap aku pergi sekolah, aku selalu melihatmu sedang bersiap-siap
berjualan nasi uduk. Parasmu yang cantik, dan senyummu yang indah selalu
teringat dalam benakku. Saat aku pulang sekolah, kadang aku melihatmu sedang
melamun. Entah kau melamun, memikirkan apa. Apakah kau memikirkanku? Apakah kau
merindukanku? Andai kau tahu, aku sungguh merindukanmu…
Dulu saat aku kecil, kau mengarjkanku berbicara, menulis, bernyanyi
dan menari. Dengan kesederhanaanmu, kau selalu membuatku hangat dan nyaman
layaknya malaikat yang selalu melindungiku. Kau menyekolahkanku di sebuah
sekolah dasar yang diidam-idamkan oleh seluruh anak walaupun dengan
keterbatasan biaya. Setiap pagi, kau selalu menyiapkan sarapan, membuatkan
bekal dan bahkan kau mengantarku kesekolah.
Setelah aku pulang sekolah, kau sudah menungguku di depan gerbang sekolah dengan payung berwarna abu agar aku tidak terkena panas atau terkena hujan. Saat aku sakit, kaulah yang merawatku hingga aku sembuh. Kau juga yang mengajarkanku berhijab, dank au selalu mengajarkanku untuk bersyukur kepada Allah SWT. Setiap malam, kau mengajarkanku shalat dan mengaji. Dengan keikhlasanmu, kau merawatku hingga aku remaja. Hingga suatu ketika, kau bercerita bahwa aku sebenarnya anak yang dititipkan oleh seorang wanita yang waktu itu sedang membeli nasi udukmu. Aku menangis saat mengetahui kenyataan itu. Aku bertanya kepadamu, siapakah Ibuku yang sebenarnya? Lalu secara diam-diam, kau mencari tahu tentang keberadaan Ibuku. Dan suatu hari Ibuku yang asli mendatangi rumahmu, dan berbicara kepadamu, entah membicarakan apa. Aku melihat dia, Ibuku, memberikan amplop coklat kepadamu. Setelah itu Ibuku membawaku pergi. Sebenarnya aku tidak mau ikut bersama Ibu, aku ingin tetap bersamamu. Tapi kau berkata “Ikutlah nak, dia adalah Ibumu. Dia akan menyayangimu lebih dari aku. Kamu biasa meminta apapun yang kamu mau. Kamu akan hidup enak.” Tapi tetap saja sebenarnya aku tidak mau, karena aku hanya butuh kasih sayang yang tulus dari seseorang sepertimu. Aku benci saat Ibuku bilang bahwa aku tidak boleh menemuimu lagi. Aku sangat benci! Aku menangis semalaman, tidak makan, tidak minum, tidak sekolah bahkan aku tidak keluar kamar. Aku hanya ingin selalu bersamamu walau kau bukan Ibuku. Tapi aku menyayangimu, aku mencitaimu, malaikatku.
Setelah aku pulang sekolah, kau sudah menungguku di depan gerbang sekolah dengan payung berwarna abu agar aku tidak terkena panas atau terkena hujan. Saat aku sakit, kaulah yang merawatku hingga aku sembuh. Kau juga yang mengajarkanku berhijab, dank au selalu mengajarkanku untuk bersyukur kepada Allah SWT. Setiap malam, kau mengajarkanku shalat dan mengaji. Dengan keikhlasanmu, kau merawatku hingga aku remaja. Hingga suatu ketika, kau bercerita bahwa aku sebenarnya anak yang dititipkan oleh seorang wanita yang waktu itu sedang membeli nasi udukmu. Aku menangis saat mengetahui kenyataan itu. Aku bertanya kepadamu, siapakah Ibuku yang sebenarnya? Lalu secara diam-diam, kau mencari tahu tentang keberadaan Ibuku. Dan suatu hari Ibuku yang asli mendatangi rumahmu, dan berbicara kepadamu, entah membicarakan apa. Aku melihat dia, Ibuku, memberikan amplop coklat kepadamu. Setelah itu Ibuku membawaku pergi. Sebenarnya aku tidak mau ikut bersama Ibu, aku ingin tetap bersamamu. Tapi kau berkata “Ikutlah nak, dia adalah Ibumu. Dia akan menyayangimu lebih dari aku. Kamu biasa meminta apapun yang kamu mau. Kamu akan hidup enak.” Tapi tetap saja sebenarnya aku tidak mau, karena aku hanya butuh kasih sayang yang tulus dari seseorang sepertimu. Aku benci saat Ibuku bilang bahwa aku tidak boleh menemuimu lagi. Aku sangat benci! Aku menangis semalaman, tidak makan, tidak minum, tidak sekolah bahkan aku tidak keluar kamar. Aku hanya ingin selalu bersamamu walau kau bukan Ibuku. Tapi aku menyayangimu, aku mencitaimu, malaikatku.
Kini aku hanya menatapmu dari jauh dan aku hanya bisa mengetahui keadaanmu sedang baik atau buruk dari temanku yang selalu membeli nasi udukmu. Ingin sekali rasanya aku memelukmu, merasakan kasih sayangmu lagi. Tapi
aku tidak mau kau tersakiti. Karena Ibuku mengancam, jika aku masih menemuimu
kau akan tersiksa. Seharusnya aku tidak
ikut bersama Ibu. Seharusnya aku tetap memilih bersamamu, walau dalam keadaan
apapun tapi aku selalu merasa bahagia, aku selalu merasa hangat dan nyaman. Aku
merindukanmu wahai malaikatku...
Tidak ada komentar :
Posting Komentar