Sudah beberapa tahun aku bersama mereka. Bisa jadi
lebih dari 5 tahun. Tapi perasaan ini tak kunjung pergi. Andai saja aku tak
pernah mengenal mereka, mungkin aku tidak akan merasakan hal seperti ini. Aku
mempunyai dua orang sahabat yang bernama Sherin dan Mario. Sebenernya mereka
itu sepasang kekasih. Awalnya kita semua hanya sahabat biasa, tetapi semua
berubah ketika Mario menyatakan cinta kepada Sherin. Sebenarnya aku juga
menyukai Sherin tetapi apa daya, aku hanya bisa memandam perasaan ini agar semua
baik-baik saja dan mungkin aku akan mengungkapan jika waktunya sudah tepat.
Hari demi hari aku lewati bersama mereka. Tahun demi
tahun hubungan mereka semakin erat. Tetapi pada hari Kamis, Mario telat datang
ke kampus dan Sherin sibuk menanyakannya. Aku hanya bisa mengatakan tidak
tahu kepada Sherin. Meskipun kami satu kontrakan tapi aku tidak selalu tahu
kemana Mario pergi.
Sebentar lagi mata kuliahku selesai. Tetapi tetap
saja Mario masih tidak terlihat. Setelah dosen mengakhiri mata kuliah terakhir
aku bertemu Sherin di Kantin. Dia pun menanyakan hal yang sama seperti tadi
pagi. Sherin berkata saat dia menghubungi Mario, handphonenya tidak aktif. Sherin sangat sedih, dan aku berusaha menghiburnya dan mengajak dia ke tempat
yang sangat ia sukai yaitu ke Gallery Unik. Dia memang sangat suka dengan lukisan
dan foto yang indah. Seketika pun dia melupakan Mario. Saat melihat jam di
handphone ternyata sudah pukul 5 sore. Aku pun mengajak dan mengantarkan Sherin pulang.
Saat aku tiba di rumah, aku memanggil-manggil nama
Mario tetapi tidak ada yang merespon. Aku pun memeriksa kamar Mario, siapa tahu
dia sedang tidur di kamarnya. Ternyata dia tidak ada. Tiba-tiba mataku tertuju
pada sebuah kertas yang berisikian permintaan maaf dari Mario untukku dan Sherin karena dia pergi begitu saja. Di dalam surat itu bertuliskan bahwa dia
harus pergi karena harus menyelesaikan masalahnya dengan keluarga yang berurusan dengan polisi juga. Aku pun tak tahu itu masalah apa.
Tetapi yang jelas dia memang pernah cerita bawah dia punya masalah dengan
keluarganya tetapi tidak menceritakan apa masalahnya.
Aku segera menelepon Sherin dan menyuruhnya datang
ke rumahku. Aku menunjukan kertas itu pada Sherin, dia pun menangis saat
membacanya. Aku pun hanya bisa menasehatinya dan berkata bahwa setiap orang
yang datang pasti akan pergi. Dan kepergian orang itu akan menghadirkan orang
baru.
Keesokan harinya, aku mengajak Sherin ke sebuah
Mall dan rencananya aku akan menyatakan perasaanku padanya. Saat aku menyatakan
perasaan itu Sherin tidak percaya, tetapi aku meyakinkan padanya bahwa aku
serius dan itu semua memang benar. Sherin pun berfikir sejenak, lalu ia
berkata tidak akan pernah menerimaku karena dia membutuhkan aku sebagai seorang
sahabat yang selalu ada untuknya. Dan dia tidak mau kehilangan lagi orang yang
ia sayangi untuk kedua kalinya.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar