Senin, 27 Mei 2013

Tanpa Judul


Sudah beberapa tahun aku bersama mereka. Bisa jadi lebih dari 5 tahun. Tapi perasaan ini tak kunjung pergi. Andai saja aku tak pernah mengenal mereka, mungkin aku tidak akan merasakan hal seperti ini. Aku mempunyai dua orang sahabat yang bernama Sherin dan Mario. Sebenernya mereka itu sepasang kekasih. Awalnya kita semua hanya sahabat biasa, tetapi semua berubah ketika Mario menyatakan cinta kepada Sherin. Sebenarnya aku juga menyukai Sherin tetapi apa daya, aku hanya bisa memandam perasaan ini agar semua baik-baik saja dan mungkin aku akan mengungkapan jika waktunya sudah tepat.
Hari demi hari aku lewati bersama mereka. Tahun demi tahun hubungan mereka semakin erat. Tetapi pada hari Kamis, Mario telat datang ke kampus dan Sherin sibuk menanyakannya. Aku hanya bisa mengatakan tidak tahu kepada Sherin. Meskipun kami satu kontrakan tapi aku tidak selalu tahu kemana Mario pergi.
Sebentar lagi mata kuliahku selesai. Tetapi tetap saja Mario masih tidak terlihat. Setelah dosen mengakhiri mata kuliah terakhir aku bertemu Sherin di Kantin. Dia pun menanyakan hal yang sama seperti tadi pagi. Sherin berkata saat dia menghubungi Mario, handphonenya tidak aktif. Sherin sangat sedih, dan aku berusaha menghiburnya dan mengajak dia ke tempat yang sangat ia sukai yaitu ke Gallery Unik. Dia memang sangat suka dengan lukisan dan foto yang indah. Seketika pun dia melupakan Mario. Saat melihat jam di handphone ternyata sudah pukul 5 sore. Aku pun mengajak dan mengantarkan Sherin pulang.
Saat aku tiba di rumah, aku memanggil-manggil nama Mario tetapi tidak ada yang merespon. Aku pun memeriksa kamar Mario, siapa tahu dia sedang tidur di kamarnya. Ternyata dia tidak ada. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kertas yang berisikian permintaan maaf dari Mario untukku dan Sherin karena dia pergi begitu saja. Di dalam surat itu bertuliskan bahwa dia harus pergi karena harus menyelesaikan masalahnya dengan keluarga yang berurusan dengan polisi juga. Aku pun tak tahu itu masalah apa. Tetapi yang jelas dia memang pernah cerita bawah dia punya masalah dengan keluarganya tetapi tidak menceritakan apa masalahnya.
Aku segera menelepon Sherin dan menyuruhnya datang ke rumahku. Aku menunjukan kertas itu pada Sherin, dia pun menangis saat membacanya. Aku pun hanya bisa menasehatinya dan berkata bahwa setiap orang yang datang pasti akan pergi. Dan kepergian orang itu akan menghadirkan orang baru.
Keesokan harinya, aku mengajak Sherin ke sebuah Mall dan rencananya aku akan menyatakan perasaanku padanya. Saat aku menyatakan perasaan itu Sherin tidak percaya, tetapi aku meyakinkan padanya bahwa aku serius dan itu semua memang benar. Sherin pun berfikir sejenak, lalu ia berkata tidak akan pernah menerimaku karena dia membutuhkan aku sebagai seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Dan dia tidak mau kehilangan lagi orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar