Andai
aku bisa mengulang waktu. Aku ingin terus bersamanya, detik demi detik, hari
demi hari bahkan tahun demi tahun. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain, dan
Dia telah menyuruh malaikat untuk menjemput orang yang baru aku kenal dengan
secepat itu. Tuhan merindukannya, sehingga ia di jemput begitu cepat. Lagi pula
siapa yang tidak akan merindukan sesosok pria tinggi, yang ideal, berkulit
kuning langsat, dan mempunyai dua lesung pipi?
Aku
bertemu dengannya saat berlibur di Bandung, di sebuah stasiun kereta api. Di sana
aku punya cerita tersendiri saat pertama kali bertemu dengannya. Saat aku
sedang berjalan mencari kendaraan untuk menuju ke rumah Tanteku, ada seorang
pria yang memanggilku.
“Hei, apa kamu yang
bernama Faradila? Ini dompetmu tertinggal!” teriaknya.
Aku pun berhenti
melangkah dan melihat siapa yang memanggilku dari jauh sana. Dia mendekat dan
memberikan dompetnya kepadaku. Aku pun berterimakasih padanya. Setelah itu dia
memperkenalkan diri.
“Namaku Reno, aku berasal
dari Yogyakarta tapi kini aku sedang berlibur bersama teman-temannku di Bandung.”
Aku hanya tersenyum
dan berjabat tangan dengannya. Setelah itu dia bertanya,
“Asalmu dari Jakarta
iya? Kamu mau pergi kemana? Mau aku antar?”
“Iya, kenapa kakak
bisa tahu? Aku mau pergi ke rumah Tanteku di daerah kopo dekat Rumah Sakit
Immanuel. Apa kakak tahu jalan menuju kesana? Jika kakak tidak keberatan, aku
mau di antar oleh kakak.”
Setelah
itu aku dan kak Reno menaiki sebuah mobil kodok berawarna merah dan dia pun
bercerita banyak tentang dirinya. Tak lama kemudian, sampailah kami di rumah Tanteku.
Di sana ada yang menyambutku dengan senang yaitu Tania, sepupuku. Dia menyangka
bahwa kak Reno adalah pacarku. Aku hanya tertawa saat mendengar kata-kata itu
dari sepupuku lalu aku menjelaskan padanya kejadian yang tadi aku alami di
stasiun kereta api. Tidak lama setelah itu, kak Reno pamit pulang dan berkata
bahwa dia sudah punya janji bersama teman-temannya.
Saat
aku sedang asik bbman dan twitteran dengan teman-temanku, ada telepon dari
nomor yang tidak aku kenal. Ketika aku angkat,
“Asalamualaikum, ini
siapa?”
“Walaikumsalam, ini
Reno.”
“Oh kak Reno, ada apa
kak?”
“Tidak ada apa-apa,
hanya ingin mengobrol saja.”
“Oh begitu. Kakak tahu
nomor handphoneku darimana?”
“Dari Tania.” jawabnya
diiringi dengan suara tertawa. Ditengah pembicaraan, kak Reno mengajakku
mengelilingi kota Bandung esok hari pukul tiga sore. Aku pun mengiyakan ajakan kak
Reno. Setelah kak Reno mematikan telepon, aku menceritakan semuanya kepada Ibu
dan teman-temanku lewat bbm lalu aku pun tertidur.
Keesokan
harinya, aku membantu Tante memasak untuk sarapan pagi dan menceritakan tentang
Reno.
“Tan, tau engga? Semalem yang nganter aku kesini
ngajak aku keluar rumah jam tiga sore.”
“Terus apa hubungannya
dengan Tante?”
“Aku kan mau minta
izin, Tan. Boleh engga?”
“Boleh aja, asal
pulangnya jangan terlalu larut.”
“Asik, makasih Tante.
Iya siap Tante sayang.”
Jarum
jam menunjukan tepat pukul tiga sore, kak Reno menjemputku dan saat aku
berpamitan kepada tante, ternyata Tania pun hendak pergi keluar rumah tapi
motornya rusak dan Tania memohon kepada kak Reno untuk ikut menaiki mobil
bersama kami. Kak Reno mengiyakan permohonan Tania. Ditengah perjalanan Tania berbicara,
“Kak, katanya mau
ngungkapin perasaan sama Dila? Tapi kok malah diem aja sih?”
“Ngungkapin perasaan?
Sama aku? Perasaan apa?”
“Kamu jangan pura-pura
engga tau gitu, Dil.”
“Heh, Tania kamu mau
turun dimana? Dari tadi ngomong aja.” ucap kak Reno.
“Kakak ngusir nih? Oke
aku turun deket halte di depan sana.” Setelah sampai di depan halte, sebelum Tania
turun dia berbicara lagi,
“Kak Reno yang ganteng
cepet tembak Dila nanti keburu di rebut orang lain.”
“Bersik kamu! Udah
sana cepet turun.” Tania pun turun dan kak Reno memulai pembicaraan. “Dil,
bener yang tadi Tania bilang. Aku mau ngungkapin perasaan sama kamu.” seketika
pun suasana hening dan yang terdengar hanya embusan angin. Lalu kak reno
melanjutkan pembicaraannya “Mau engga kamu jadi pacar aku? Tapi sayang kayaknya
bentar lagi aku pergi ninggalin kamu.”
“Ninggalin kemana?”
“Sebenernya aku punya
penyakit leukeumia. Akupun engga tahu berapa lama lagi aku hidup di dunia ini
karena penyakitku semakin parah. Aku cuman ingin di kota ini, aku bisa bahagia
dan nemuin cinta terakhir aku. Jadi kamu mau engga jadi pacarku sekaligus jadi
cinta terakhirku? Aku tahu kita baru
pertama kenal tapi hati ini bicara bahwa kamulah cinta terakhirku.”
Dengan perasaan sangat
bingung aku pun menjawab, “Tapi sebelumnya maaf, aku cuma nganggap kalau kakak
itu adala kakakku. Aku engga bisa jadi pacar kakak, maaf iya kak.”
“Yaudah engga apa-apa,
Dil. Tapi kalau kakak tetep pingin di deket kamu bolehkan?” Aku hanya tersenyum
manis mendengar pertanyaan tersebut.
Tidak
lama kemudian tibalah kami di suatu tempat, di daerah Lembang dan disana banyak
sekali orang-orang yang seumuran dengan kak Reno. Dia pun mengajakku ke tempat
orang-orang itu berkumpul. Ternyata itu semua temannya dan yang aku tidak
sangka adalah salah satu teman kak Reno adalah pacar kakakku. Aku hanya
tersenyum saat bertemu dengannya. Di sana tidak hanya ada pria saja, tetapi ada
juga beberapa wanita. Wanita-wanita itu adalah pacar teman-teman kak Reno. Di
sana aku berkenalan dengan mereka semua dan ternyata hanya aku yang berumur 16
tahun.
Setelah
acara beres, kami pulang sekitar pukul 8 malam. Dan tiba di rumah tanteku pukul
9 malam. Aku pun mengucapkan terimakasih kepada kak Reno karena telah
mengajakku keliling Bandung dan memperkenalkanku kepada teman-temannya. Tak
lupa aku meminta maaf kepadanya karena tidak bisa menjadi kekasihnya. Setelah
itu aku pun segera mengganti baju, cuci muka dan segera tidur.
Pada
pukul 3 subuh, ada telepon dari salah satu teman kak Reno dan mengatakan bahwa kak
Reno masuk rumah sakit. Aku pun segera membangunkan tante dan Tania lalu
menceritakan yang telah terjadi. Setelah itu aku, tante dan Tania segera menuju
rumah sakit. Saat aku melihat keadaan kak Reno, entah mengapa air mataku
menetes dan tiba-tiba kak Reno tersadar dan mengatakan terimakasih banyak
kepadaku karena telah membuatnya bahagia meskipun aku tidak bisa menjadi
kekasih terakhirnya. Setelah itu kak Reno pun mengucapkan selamat tinggal dan suara
alat detak jantung pun berbunyi dengan panjang. Kak Reno telah tiada dan
meninggalkan orang-orang di sekitarnya. Aku menangis sekencang-kencangnya dan
aku pun memeluk jasadnya yang telah tenang melepas beban yang selama ini ia
rasakan.
Terimakasih kak Reno, hanya kakak
yang bisa membuatku bahagia di kota Bandung. Semoga kakak tenang di alam sana
dan semoga kisah kita terkenang di kota itu. Maaf aku tidak bisa menjadi cinta
terakhir kakak. Tapi aku sayang kakak dan aku akan merindukan kakak. Kakak yang
tenang di alam sana, aku akan selalu mengunjungi kota Bandung sekaligus
mengunjungi makam kakak meskipun aku tak punya keluarga di Bandung lagi karena
tante sudah pindah ke Kalimantan. Sekali lagi terimakasih dan maaf, kak. Salam
hangat dari orang yang tidak bisa jadi cinta terakhirmu,
Faradila
Nasyila
Tidak ada komentar :
Posting Komentar