Kamis, 04 April 2013

Cinta Terakhir di Kota Bandung


Andai aku bisa mengulang waktu. Aku ingin terus bersamanya, detik demi detik, hari demi hari bahkan tahun demi tahun. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain, dan Dia telah menyuruh malaikat untuk menjemput orang yang baru aku kenal dengan secepat itu. Tuhan merindukannya, sehingga ia di jemput begitu cepat. Lagi pula siapa yang tidak akan merindukan sesosok pria tinggi, yang ideal, berkulit kuning langsat, dan mempunyai dua lesung pipi?
Aku bertemu dengannya saat berlibur di Bandung, di sebuah stasiun kereta api. Di sana aku punya cerita tersendiri saat pertama kali bertemu dengannya. Saat aku sedang berjalan mencari kendaraan untuk menuju ke rumah Tanteku, ada seorang pria yang memanggilku.
“Hei, apa kamu yang bernama Faradila? Ini dompetmu tertinggal!” teriaknya.
Aku pun berhenti melangkah dan melihat siapa yang memanggilku dari jauh sana. Dia mendekat dan memberikan dompetnya kepadaku. Aku pun berterimakasih padanya. Setelah itu dia memperkenalkan diri.
“Namaku Reno, aku berasal dari Yogyakarta tapi kini aku sedang berlibur bersama teman-temannku di Bandung.”
Aku hanya tersenyum dan berjabat tangan dengannya. Setelah itu dia bertanya,
“Asalmu dari Jakarta iya? Kamu mau pergi kemana? Mau aku antar?”
“Iya, kenapa kakak bisa tahu? Aku mau pergi ke rumah Tanteku di daerah kopo dekat Rumah Sakit Immanuel. Apa kakak tahu jalan menuju kesana? Jika kakak tidak keberatan, aku mau di antar oleh kakak.”
Setelah itu aku dan kak Reno menaiki sebuah mobil kodok berawarna merah dan dia pun bercerita banyak tentang dirinya. Tak lama kemudian, sampailah kami di rumah Tanteku. Di sana ada yang menyambutku dengan senang yaitu Tania, sepupuku. Dia menyangka bahwa kak Reno adalah pacarku. Aku hanya tertawa saat mendengar kata-kata itu dari sepupuku lalu aku menjelaskan padanya kejadian yang tadi aku alami di stasiun kereta api. Tidak lama setelah itu, kak Reno pamit pulang dan berkata bahwa dia sudah punya janji bersama teman-temannya.
Saat aku sedang asik bbman dan twitteran dengan teman-temanku, ada telepon dari nomor yang tidak aku kenal. Ketika aku angkat,
“Asalamualaikum, ini siapa?”
“Walaikumsalam, ini Reno.”
“Oh kak Reno, ada apa kak?”
“Tidak ada apa-apa, hanya ingin mengobrol saja.”
“Oh begitu. Kakak tahu nomor handphoneku darimana?”
“Dari Tania.” jawabnya diiringi dengan suara tertawa. Ditengah pembicaraan, kak Reno mengajakku mengelilingi kota Bandung esok hari pukul tiga sore. Aku pun mengiyakan ajakan kak Reno. Setelah kak Reno mematikan telepon, aku menceritakan semuanya kepada Ibu dan teman-temanku lewat bbm lalu aku pun tertidur.
Keesokan harinya, aku membantu Tante memasak untuk sarapan pagi dan menceritakan tentang Reno.
“Tan,  tau engga? Semalem yang nganter aku kesini ngajak aku keluar rumah jam tiga sore.”
“Terus apa hubungannya dengan Tante?”
“Aku kan mau minta izin, Tan. Boleh engga?”
“Boleh aja, asal pulangnya jangan terlalu larut.”
“Asik, makasih Tante. Iya siap Tante sayang.”
Jarum jam menunjukan tepat pukul tiga sore, kak Reno menjemputku dan saat aku berpamitan kepada tante, ternyata Tania pun hendak pergi keluar rumah tapi motornya rusak dan Tania memohon kepada kak Reno untuk ikut menaiki mobil bersama kami. Kak Reno mengiyakan permohonan Tania. Ditengah perjalanan Tania berbicara,
“Kak, katanya mau ngungkapin perasaan sama Dila? Tapi kok malah diem aja sih?”
“Ngungkapin perasaan? Sama aku? Perasaan apa?”
“Kamu jangan pura-pura engga tau gitu, Dil.”
“Heh, Tania kamu mau turun dimana? Dari tadi ngomong aja.” ucap kak Reno.
“Kakak ngusir nih? Oke aku turun deket halte di depan sana.” Setelah sampai di depan halte, sebelum Tania turun dia berbicara lagi,
“Kak Reno yang ganteng cepet tembak Dila nanti keburu di rebut orang lain.”
“Bersik kamu! Udah sana cepet turun.” Tania pun turun dan kak Reno memulai pembicaraan. “Dil, bener yang tadi Tania bilang. Aku mau ngungkapin perasaan sama kamu.” seketika pun suasana hening dan yang terdengar hanya embusan angin. Lalu kak reno melanjutkan pembicaraannya “Mau engga kamu jadi pacar aku? Tapi sayang kayaknya bentar lagi aku pergi ninggalin kamu.”
“Ninggalin kemana?”
“Sebenernya aku punya penyakit leukeumia. Akupun engga tahu berapa lama lagi aku hidup di dunia ini karena penyakitku semakin parah. Aku cuman ingin di kota ini, aku bisa bahagia dan nemuin cinta terakhir aku. Jadi kamu mau engga jadi pacarku sekaligus jadi cinta terakhirku? Aku  tahu kita baru pertama kenal tapi hati ini bicara bahwa kamulah cinta terakhirku.”
Dengan perasaan sangat bingung aku pun menjawab, “Tapi sebelumnya maaf, aku cuma nganggap kalau kakak itu adala kakakku. Aku engga bisa jadi pacar kakak, maaf iya kak.”
“Yaudah engga apa-apa, Dil. Tapi kalau kakak tetep pingin di deket kamu bolehkan?” Aku hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan tersebut.
Tidak lama kemudian tibalah kami di suatu tempat, di daerah Lembang dan disana banyak sekali orang-orang yang seumuran dengan kak Reno. Dia pun mengajakku ke tempat orang-orang itu berkumpul. Ternyata itu semua temannya dan yang aku tidak sangka adalah salah satu teman kak Reno adalah pacar kakakku. Aku hanya tersenyum saat bertemu dengannya. Di sana tidak hanya ada pria saja, tetapi ada juga beberapa wanita. Wanita-wanita itu adalah pacar teman-teman kak Reno. Di sana aku berkenalan dengan mereka semua dan ternyata hanya aku yang berumur 16 tahun.
Setelah acara beres, kami pulang sekitar pukul 8 malam. Dan tiba di rumah tanteku pukul 9 malam. Aku pun mengucapkan terimakasih kepada kak Reno karena telah mengajakku keliling Bandung dan memperkenalkanku kepada teman-temannya. Tak lupa aku meminta maaf kepadanya karena tidak bisa menjadi kekasihnya. Setelah itu aku pun segera mengganti baju, cuci muka dan segera tidur.
Pada pukul 3 subuh, ada telepon dari salah satu teman kak Reno dan mengatakan bahwa kak Reno masuk rumah sakit. Aku pun segera membangunkan tante dan Tania lalu menceritakan yang telah terjadi. Setelah itu aku, tante dan Tania segera menuju rumah sakit. Saat aku melihat keadaan kak Reno, entah mengapa air mataku menetes dan tiba-tiba kak Reno tersadar dan mengatakan terimakasih banyak kepadaku karena telah membuatnya bahagia meskipun aku tidak bisa menjadi kekasih terakhirnya. Setelah itu kak Reno pun mengucapkan selamat tinggal dan suara alat detak jantung pun berbunyi dengan panjang. Kak Reno telah tiada dan meninggalkan orang-orang di sekitarnya. Aku menangis sekencang-kencangnya dan aku pun memeluk jasadnya yang telah tenang melepas beban yang selama ini ia rasakan.


Terimakasih kak Reno, hanya kakak yang bisa membuatku bahagia di kota Bandung. Semoga kakak tenang di alam sana dan semoga kisah kita terkenang di kota itu. Maaf aku tidak bisa menjadi cinta terakhir kakak. Tapi aku sayang kakak dan aku akan merindukan kakak. Kakak yang tenang di alam sana, aku akan selalu mengunjungi kota Bandung sekaligus mengunjungi makam kakak meskipun aku tak punya keluarga di Bandung lagi karena tante sudah pindah ke Kalimantan. Sekali lagi terimakasih dan maaf, kak. Salam hangat dari orang yang tidak bisa jadi cinta terakhirmu,


Faradila Nasyila

Tidak ada komentar :

Posting Komentar