"Sekarang aku tahu apa itu cinta."
Mada menatapku. Hampir saja secangkir cappuccino yang hendak diminumnya tumpah mengenai kemeja, meninggalkan serbekas noda berawarna cokelat yang pasti tidak mudah untuk dibersihkan.
"Cinta itu seperti," sengaja kuhentikan perkataanku, memancing rasa penasaran lelaki di hadapanku. "Cappuccino." tambahku.
"Cappuccino?" Mada menaikan sebelah alisnya. Menuntut penjelasan lebih atas argumen yang kulontarkan padanya. Kusodorkan secangkir cappuccino miliknya. Bibirnya menempel lembut di ujung cangkir. Menikmati tiap tegukannya, kembali larut dalam hangatnya cairan berawarna cokelat itu, membiarkan indera perasanya bekerja akan hal ini. Meninggalkan sedikit buih coffee disisi bibirnya.
"Bagaimana rasanya?"
"Manis, sedikit rasa pahit disana. Tapi aku menyukainya." ujarnya lalu kembali larut dalam cappuccino itu.
Di dalam semua tulisan ini belum tentu itu aku dan belum tentu itu kamu. Dan semua tulisan ini bukan seluruhnya kisah nyata.
