Senin, 10 November 2014

Black Coffee

Dentingan bel menyambut saat tangannya mendorong kenop pintu sebuah kedai kopi yang cukup familiar di suatu distrik. Senyum simpul pun turut menyapanya dari pojok kursi dekat jendela. Dengan segera, kedua tungkainya bergerak menghampiri si pemilik senyum hangat yang menyapanya barusan.

"Kamu sudah di sini rupanya." tangannya terulur untuk menarik kursi di hadapan perempuan yang menyunguhinya senyum tadi. Lekas ia duduk dan tak lupa membalas senyum tersebut.
"Tentu saja, aku tidak pernah terlambat sepertimu." ucapnya sambil menyesap kopinya.
"Maafkan aku, tadi ada sedikit hal di kantor yang harus diselesaikan."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti, kesibukanmu makin hari makin bertambah."
Setelah itu, pria yang datang terlambat memesan kopi kepada pelayan. Ia melirik cangkir di depannya, milik perempuan yang berada di depannya.