Sabtu, 19 April 2014

17!

"Tujuh Belas"
Apa yang spesial dari "Tujuh Belas" ini?
Seperti biasanya, orang mengucapkan, memberi doa, memberi kado dan lain-lain.
Tidak ada yang lebih.
Tidak ada yang kurang.
Tapi aku tahu satu hal,
Doa itu adalah kado yang paling manjur.

Setiap tahun aku tidak pernah meminta apa pun.
Tapi setiap tahun juga aku selalu merasa aku tidak ingin berulang tahun.
Iya, berulang tahun.
Karena berulang tahun itu sama saja dengan berkurangnya umur.
Tapi aku mencoba menikmati, mencoba mensyukuri,
Karena aku masih diberi umur hingga detik ini.

Sepengetahuan ku
"Tujuh Belas" itu kita sudah beranjak dewasa
Dan sudah mulai mengerti tentang sisi-sisi kehidupan.
Tidak menyenangkan mungkin,
karena kita belum siap untuk menyelesaikan masalah yang menerjang.
Jadi, bersabarah dalam menghadapi suatu masalah
Dan mulai berpikir secara mandiri.

Apa lagi yang ada di dalam "Tujuh Belas" ini?
Oh iya, mendapati KTP alias Kartu Tanda Penduduk
Bukan Kartu Tanda Pacaran. Haha!
Dan di "Tujuh Belas" ini sepertinya akan mendapat SIM juga,
dan bisa memilih capres, caleg, atau sebagainya.

Well,
"Tujuh Belas" ini tidak selalu mengasikan,
tidak selalu menyedihkan.
Jalani saja.
Syukuri apa yang ada selagi kita bisa.

Minggu, 06 April 2014

Bintang

Bintang telah mempertemukan kita
Saat kita pertama kali bertemu di Bosscha
Dan saat pertama bertemu,
Kamu menebak namaku dengan tepat
Aquila, seperti rasi bintang yang berarti elang

Matamu yang hazel menatapku penuh kehangatan
Dengan senyum yang mungkin bisa membuat para wanita terpana
Dan tanganmu yang lembut menjabat tanganku yang mungil

Kamu menceritakan beberapa rasi bintang yang kamu suka
Aku hanya menatapmu selama bercerita
Menatap wajahmu yang penuh dengan ekspresi

Ketika matamu melihat mataku
Bertemu di satu titik yang sama
Aku merasa matamu seperti Sagitta
Yang menusuk di mataku, juga hati
Sagitta, rasi bintang yang berarti anak panah

Mungkin kejadian ini pun akan seperti Sagitta
Yang memanah otakku
Dan otakku sudah di kelilingi oleh Scutum
Rasi bintang yang berarti perisai
Yang akan melindungi otakku dari Sagitta lainnya

Bulan Sabit

Setiap malam, jika bulan sabit muncul
Aku selalu mellihatnya di taman dekat rumah
Diringi suara petikan gitar yang entah darimana
Tapi, suara petikan gitar itu selalu ada saat bulan sabit muncul

Ketika bulan purnama muncul
Aku iseng melihatnya di taman dekat rumah
Tapi suara petikan gitar itu tidak terdengar lagi

Dan ketika bulan sabit itu muncul lagi setelah sekian lama
Karena adanya hujan,
Tiba-tiba kau muncul membawa gitar
Di bawah sinar bulan sabit yang hanya terpancar sedikit
Kamu tersenyum ke arahku
Dengan gigi berderet rapi dengan mata sipit seperti bulan sabit

Kini aku tahu siapa yang selama ini memetik gitar
Saat bulan sabit ada di langit
Itu kamu, pria dengan mata sipit seperti bulan sabit jika tersenyum

Aku tahu mengapa kamu hanya muncul saat bulan sabit ada
Karena mata sipitmu itu jika tersenyum terlihat seperti bulan sabit
Aku suka bulan sabit
Aku pun sepertinya suka matamu yang jika tersenyum terlihat seperti bulan sabit
Tapi sepertinya aku bukan hanya menyukai matamu saja yang terlihat seperti bulan sabit itu

Senja

Senja selalu indah
Seindah saat hari-hariku bersamamu

Setiap senja kita selalu berjalan bersama di tepi pantai
Dengan hembusan angin yang menerpa tubuh
Dengan suara ombak yang bergemuruh

Setiap hari kau menceritakan segala yang kamu alami
Begitu pun aku

Aku selalu suka saat kamu tertawa
Dengan lesung pipi dan matamu yang menjadi sedikit sipit
Aku pun selalu suka saat kamu menggengam tanganku
Hangat
Penuh dengan rasa sayang

Aku berharap bisa selalu bersamamu
Mengulang kebiasaan kita seperti ini
Di bawah senja yang indah

Selasa, 12 November 2013

Ayah

Kini aku tak tahu keadaanmu bagaimana. Aku tak tahu kau tinggal dimana. Setelah sekian tahun tidak bertemu, mungkin kau akan lupa akan wajah anakmu. Terakhir kau mengirimkan surat padaku, saat aku berumur 12 tahun. Kini usiaku sudah menginjak 17 tahun. Sudah lama sekali, bukan? Iya, hari ini aku ulang tahun. Apa kau ingat? Dulu jika ulang aku berulang tahun, kita merayakannya secara kecil-kecilan. Setelah kau pisah dengan Ibu, saat aku berulang tahun kau mengirmkan kado dan sebuah kartu ucapan. Tapi sealama 5 tahun kebelakang, aku tidak pernah mendapatkan itu lagi. Apa kau tidak ingat?

Jumat, 01 November 2013

Malaikatku


Setiap aku pergi sekolah, aku selalu melihatmu sedang bersiap-siap berjualan nasi uduk. Parasmu yang cantik, dan senyummu yang indah selalu teringat dalam benakku. Saat aku pulang sekolah, kadang aku melihatmu sedang melamun. Entah kau melamun, memikirkan apa. Apakah kau memikirkanku? Apakah kau merindukanku? Andai kau tahu, aku sungguh merindukanmu…

Dulu saat aku kecil, kau mengarjkanku berbicara, menulis, bernyanyi dan menari. Dengan kesederhanaanmu, kau selalu membuatku hangat dan nyaman layaknya malaikat yang selalu melindungiku. Kau menyekolahkanku di sebuah sekolah dasar yang diidam-idamkan oleh seluruh anak walaupun dengan keterbatasan biaya. Setiap pagi, kau selalu menyiapkan sarapan, membuatkan bekal dan bahkan kau mengantarku kesekolah.

Senin, 27 Mei 2013

Tanpa Judul


Sudah beberapa tahun aku bersama mereka. Bisa jadi lebih dari 5 tahun. Tapi perasaan ini tak kunjung pergi. Andai saja aku tak pernah mengenal mereka, mungkin aku tidak akan merasakan hal seperti ini. Aku mempunyai dua orang sahabat yang bernama Sherin dan Mario. Sebenernya mereka itu sepasang kekasih. Awalnya kita semua hanya sahabat biasa, tetapi semua berubah ketika Mario menyatakan cinta kepada Sherin. Sebenarnya aku juga menyukai Sherin tetapi apa daya, aku hanya bisa memandam perasaan ini agar semua baik-baik saja dan mungkin aku akan mengungkapan jika waktunya sudah tepat.
Hari demi hari aku lewati bersama mereka. Tahun demi tahun hubungan mereka semakin erat. Tetapi pada hari Kamis, Mario telat datang ke kampus dan Sherin sibuk menanyakannya. Aku hanya bisa mengatakan tidak tahu kepada Sherin. Meskipun kami satu kontrakan tapi aku tidak selalu tahu kemana Mario pergi.
Sebentar lagi mata kuliahku selesai. Tetapi tetap saja Mario masih tidak terlihat. Setelah dosen mengakhiri mata kuliah terakhir aku bertemu Sherin di Kantin. Dia pun menanyakan hal yang sama seperti tadi pagi. Sherin berkata saat dia menghubungi Mario, handphonenya tidak aktif. Sherin sangat sedih, dan aku berusaha menghiburnya dan mengajak dia ke tempat yang sangat ia sukai yaitu ke Gallery Unik. Dia memang sangat suka dengan lukisan dan foto yang indah. Seketika pun dia melupakan Mario. Saat melihat jam di handphone ternyata sudah pukul 5 sore. Aku pun mengajak dan mengantarkan Sherin pulang.
Saat aku tiba di rumah, aku memanggil-manggil nama Mario tetapi tidak ada yang merespon. Aku pun memeriksa kamar Mario, siapa tahu dia sedang tidur di kamarnya. Ternyata dia tidak ada. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kertas yang berisikian permintaan maaf dari Mario untukku dan Sherin karena dia pergi begitu saja. Di dalam surat itu bertuliskan bahwa dia harus pergi karena harus menyelesaikan masalahnya dengan keluarga yang berurusan dengan polisi juga. Aku pun tak tahu itu masalah apa. Tetapi yang jelas dia memang pernah cerita bawah dia punya masalah dengan keluarganya tetapi tidak menceritakan apa masalahnya.
Aku segera menelepon Sherin dan menyuruhnya datang ke rumahku. Aku menunjukan kertas itu pada Sherin, dia pun menangis saat membacanya. Aku pun hanya bisa menasehatinya dan berkata bahwa setiap orang yang datang pasti akan pergi. Dan kepergian orang itu akan menghadirkan orang baru.
Keesokan harinya, aku mengajak Sherin ke sebuah Mall dan rencananya aku akan menyatakan perasaanku padanya. Saat aku menyatakan perasaan itu Sherin tidak percaya, tetapi aku meyakinkan padanya bahwa aku serius dan itu semua memang benar. Sherin pun berfikir sejenak, lalu ia berkata tidak akan pernah menerimaku karena dia membutuhkan aku sebagai seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Dan dia tidak mau kehilangan lagi orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.