Selasa, 12 November 2013

Ayah

Kini aku tak tahu keadaanmu bagaimana. Aku tak tahu kau tinggal dimana. Setelah sekian tahun tidak bertemu, mungkin kau akan lupa akan wajah anakmu. Terakhir kau mengirimkan surat padaku, saat aku berumur 12 tahun. Kini usiaku sudah menginjak 17 tahun. Sudah lama sekali, bukan? Iya, hari ini aku ulang tahun. Apa kau ingat? Dulu jika ulang aku berulang tahun, kita merayakannya secara kecil-kecilan. Setelah kau pisah dengan Ibu, saat aku berulang tahun kau mengirmkan kado dan sebuah kartu ucapan. Tapi sealama 5 tahun kebelakang, aku tidak pernah mendapatkan itu lagi. Apa kau tidak ingat?

Jumat, 01 November 2013

Malaikatku


Setiap aku pergi sekolah, aku selalu melihatmu sedang bersiap-siap berjualan nasi uduk. Parasmu yang cantik, dan senyummu yang indah selalu teringat dalam benakku. Saat aku pulang sekolah, kadang aku melihatmu sedang melamun. Entah kau melamun, memikirkan apa. Apakah kau memikirkanku? Apakah kau merindukanku? Andai kau tahu, aku sungguh merindukanmu…

Dulu saat aku kecil, kau mengarjkanku berbicara, menulis, bernyanyi dan menari. Dengan kesederhanaanmu, kau selalu membuatku hangat dan nyaman layaknya malaikat yang selalu melindungiku. Kau menyekolahkanku di sebuah sekolah dasar yang diidam-idamkan oleh seluruh anak walaupun dengan keterbatasan biaya. Setiap pagi, kau selalu menyiapkan sarapan, membuatkan bekal dan bahkan kau mengantarku kesekolah.

Senin, 27 Mei 2013

Tanpa Judul


Sudah beberapa tahun aku bersama mereka. Bisa jadi lebih dari 5 tahun. Tapi perasaan ini tak kunjung pergi. Andai saja aku tak pernah mengenal mereka, mungkin aku tidak akan merasakan hal seperti ini. Aku mempunyai dua orang sahabat yang bernama Sherin dan Mario. Sebenernya mereka itu sepasang kekasih. Awalnya kita semua hanya sahabat biasa, tetapi semua berubah ketika Mario menyatakan cinta kepada Sherin. Sebenarnya aku juga menyukai Sherin tetapi apa daya, aku hanya bisa memandam perasaan ini agar semua baik-baik saja dan mungkin aku akan mengungkapan jika waktunya sudah tepat.
Hari demi hari aku lewati bersama mereka. Tahun demi tahun hubungan mereka semakin erat. Tetapi pada hari Kamis, Mario telat datang ke kampus dan Sherin sibuk menanyakannya. Aku hanya bisa mengatakan tidak tahu kepada Sherin. Meskipun kami satu kontrakan tapi aku tidak selalu tahu kemana Mario pergi.
Sebentar lagi mata kuliahku selesai. Tetapi tetap saja Mario masih tidak terlihat. Setelah dosen mengakhiri mata kuliah terakhir aku bertemu Sherin di Kantin. Dia pun menanyakan hal yang sama seperti tadi pagi. Sherin berkata saat dia menghubungi Mario, handphonenya tidak aktif. Sherin sangat sedih, dan aku berusaha menghiburnya dan mengajak dia ke tempat yang sangat ia sukai yaitu ke Gallery Unik. Dia memang sangat suka dengan lukisan dan foto yang indah. Seketika pun dia melupakan Mario. Saat melihat jam di handphone ternyata sudah pukul 5 sore. Aku pun mengajak dan mengantarkan Sherin pulang.
Saat aku tiba di rumah, aku memanggil-manggil nama Mario tetapi tidak ada yang merespon. Aku pun memeriksa kamar Mario, siapa tahu dia sedang tidur di kamarnya. Ternyata dia tidak ada. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah kertas yang berisikian permintaan maaf dari Mario untukku dan Sherin karena dia pergi begitu saja. Di dalam surat itu bertuliskan bahwa dia harus pergi karena harus menyelesaikan masalahnya dengan keluarga yang berurusan dengan polisi juga. Aku pun tak tahu itu masalah apa. Tetapi yang jelas dia memang pernah cerita bawah dia punya masalah dengan keluarganya tetapi tidak menceritakan apa masalahnya.
Aku segera menelepon Sherin dan menyuruhnya datang ke rumahku. Aku menunjukan kertas itu pada Sherin, dia pun menangis saat membacanya. Aku pun hanya bisa menasehatinya dan berkata bahwa setiap orang yang datang pasti akan pergi. Dan kepergian orang itu akan menghadirkan orang baru.
Keesokan harinya, aku mengajak Sherin ke sebuah Mall dan rencananya aku akan menyatakan perasaanku padanya. Saat aku menyatakan perasaan itu Sherin tidak percaya, tetapi aku meyakinkan padanya bahwa aku serius dan itu semua memang benar. Sherin pun berfikir sejenak, lalu ia berkata tidak akan pernah menerimaku karena dia membutuhkan aku sebagai seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Dan dia tidak mau kehilangan lagi orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.

Kamis, 04 April 2013

Cinta Terakhir di Kota Bandung


Andai aku bisa mengulang waktu. Aku ingin terus bersamanya, detik demi detik, hari demi hari bahkan tahun demi tahun. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain, dan Dia telah menyuruh malaikat untuk menjemput orang yang baru aku kenal dengan secepat itu. Tuhan merindukannya, sehingga ia di jemput begitu cepat. Lagi pula siapa yang tidak akan merindukan sesosok pria tinggi, yang ideal, berkulit kuning langsat, dan mempunyai dua lesung pipi?
Aku bertemu dengannya saat berlibur di Bandung, di sebuah stasiun kereta api. Di sana aku punya cerita tersendiri saat pertama kali bertemu dengannya. Saat aku sedang berjalan mencari kendaraan untuk menuju ke rumah Tanteku, ada seorang pria yang memanggilku.
“Hei, apa kamu yang bernama Faradila? Ini dompetmu tertinggal!” teriaknya.
Aku pun berhenti melangkah dan melihat siapa yang memanggilku dari jauh sana. Dia mendekat dan memberikan dompetnya kepadaku. Aku pun berterimakasih padanya. Setelah itu dia memperkenalkan diri.
“Namaku Reno, aku berasal dari Yogyakarta tapi kini aku sedang berlibur bersama teman-temannku di Bandung.”
Aku hanya tersenyum dan berjabat tangan dengannya. Setelah itu dia bertanya,
“Asalmu dari Jakarta iya? Kamu mau pergi kemana? Mau aku antar?”
“Iya, kenapa kakak bisa tahu? Aku mau pergi ke rumah Tanteku di daerah kopo dekat Rumah Sakit Immanuel. Apa kakak tahu jalan menuju kesana? Jika kakak tidak keberatan, aku mau di antar oleh kakak.”
Setelah itu aku dan kak Reno menaiki sebuah mobil kodok berawarna merah dan dia pun bercerita banyak tentang dirinya. Tak lama kemudian, sampailah kami di rumah Tanteku. Di sana ada yang menyambutku dengan senang yaitu Tania, sepupuku. Dia menyangka bahwa kak Reno adalah pacarku. Aku hanya tertawa saat mendengar kata-kata itu dari sepupuku lalu aku menjelaskan padanya kejadian yang tadi aku alami di stasiun kereta api. Tidak lama setelah itu, kak Reno pamit pulang dan berkata bahwa dia sudah punya janji bersama teman-temannya.
Saat aku sedang asik bbman dan twitteran dengan teman-temanku, ada telepon dari nomor yang tidak aku kenal. Ketika aku angkat,
“Asalamualaikum, ini siapa?”
“Walaikumsalam, ini Reno.”
“Oh kak Reno, ada apa kak?”
“Tidak ada apa-apa, hanya ingin mengobrol saja.”
“Oh begitu. Kakak tahu nomor handphoneku darimana?”
“Dari Tania.” jawabnya diiringi dengan suara tertawa. Ditengah pembicaraan, kak Reno mengajakku mengelilingi kota Bandung esok hari pukul tiga sore. Aku pun mengiyakan ajakan kak Reno. Setelah kak Reno mematikan telepon, aku menceritakan semuanya kepada Ibu dan teman-temanku lewat bbm lalu aku pun tertidur.
Keesokan harinya, aku membantu Tante memasak untuk sarapan pagi dan menceritakan tentang Reno.
“Tan,  tau engga? Semalem yang nganter aku kesini ngajak aku keluar rumah jam tiga sore.”
“Terus apa hubungannya dengan Tante?”
“Aku kan mau minta izin, Tan. Boleh engga?”
“Boleh aja, asal pulangnya jangan terlalu larut.”
“Asik, makasih Tante. Iya siap Tante sayang.”
Jarum jam menunjukan tepat pukul tiga sore, kak Reno menjemputku dan saat aku berpamitan kepada tante, ternyata Tania pun hendak pergi keluar rumah tapi motornya rusak dan Tania memohon kepada kak Reno untuk ikut menaiki mobil bersama kami. Kak Reno mengiyakan permohonan Tania. Ditengah perjalanan Tania berbicara,
“Kak, katanya mau ngungkapin perasaan sama Dila? Tapi kok malah diem aja sih?”
“Ngungkapin perasaan? Sama aku? Perasaan apa?”
“Kamu jangan pura-pura engga tau gitu, Dil.”
“Heh, Tania kamu mau turun dimana? Dari tadi ngomong aja.” ucap kak Reno.
“Kakak ngusir nih? Oke aku turun deket halte di depan sana.” Setelah sampai di depan halte, sebelum Tania turun dia berbicara lagi,
“Kak Reno yang ganteng cepet tembak Dila nanti keburu di rebut orang lain.”
“Bersik kamu! Udah sana cepet turun.” Tania pun turun dan kak Reno memulai pembicaraan. “Dil, bener yang tadi Tania bilang. Aku mau ngungkapin perasaan sama kamu.” seketika pun suasana hening dan yang terdengar hanya embusan angin. Lalu kak reno melanjutkan pembicaraannya “Mau engga kamu jadi pacar aku? Tapi sayang kayaknya bentar lagi aku pergi ninggalin kamu.”
“Ninggalin kemana?”
“Sebenernya aku punya penyakit leukeumia. Akupun engga tahu berapa lama lagi aku hidup di dunia ini karena penyakitku semakin parah. Aku cuman ingin di kota ini, aku bisa bahagia dan nemuin cinta terakhir aku. Jadi kamu mau engga jadi pacarku sekaligus jadi cinta terakhirku? Aku  tahu kita baru pertama kenal tapi hati ini bicara bahwa kamulah cinta terakhirku.”
Dengan perasaan sangat bingung aku pun menjawab, “Tapi sebelumnya maaf, aku cuma nganggap kalau kakak itu adala kakakku. Aku engga bisa jadi pacar kakak, maaf iya kak.”
“Yaudah engga apa-apa, Dil. Tapi kalau kakak tetep pingin di deket kamu bolehkan?” Aku hanya tersenyum manis mendengar pertanyaan tersebut.
Tidak lama kemudian tibalah kami di suatu tempat, di daerah Lembang dan disana banyak sekali orang-orang yang seumuran dengan kak Reno. Dia pun mengajakku ke tempat orang-orang itu berkumpul. Ternyata itu semua temannya dan yang aku tidak sangka adalah salah satu teman kak Reno adalah pacar kakakku. Aku hanya tersenyum saat bertemu dengannya. Di sana tidak hanya ada pria saja, tetapi ada juga beberapa wanita. Wanita-wanita itu adalah pacar teman-teman kak Reno. Di sana aku berkenalan dengan mereka semua dan ternyata hanya aku yang berumur 16 tahun.
Setelah acara beres, kami pulang sekitar pukul 8 malam. Dan tiba di rumah tanteku pukul 9 malam. Aku pun mengucapkan terimakasih kepada kak Reno karena telah mengajakku keliling Bandung dan memperkenalkanku kepada teman-temannya. Tak lupa aku meminta maaf kepadanya karena tidak bisa menjadi kekasihnya. Setelah itu aku pun segera mengganti baju, cuci muka dan segera tidur.
Pada pukul 3 subuh, ada telepon dari salah satu teman kak Reno dan mengatakan bahwa kak Reno masuk rumah sakit. Aku pun segera membangunkan tante dan Tania lalu menceritakan yang telah terjadi. Setelah itu aku, tante dan Tania segera menuju rumah sakit. Saat aku melihat keadaan kak Reno, entah mengapa air mataku menetes dan tiba-tiba kak Reno tersadar dan mengatakan terimakasih banyak kepadaku karena telah membuatnya bahagia meskipun aku tidak bisa menjadi kekasih terakhirnya. Setelah itu kak Reno pun mengucapkan selamat tinggal dan suara alat detak jantung pun berbunyi dengan panjang. Kak Reno telah tiada dan meninggalkan orang-orang di sekitarnya. Aku menangis sekencang-kencangnya dan aku pun memeluk jasadnya yang telah tenang melepas beban yang selama ini ia rasakan.


Terimakasih kak Reno, hanya kakak yang bisa membuatku bahagia di kota Bandung. Semoga kakak tenang di alam sana dan semoga kisah kita terkenang di kota itu. Maaf aku tidak bisa menjadi cinta terakhir kakak. Tapi aku sayang kakak dan aku akan merindukan kakak. Kakak yang tenang di alam sana, aku akan selalu mengunjungi kota Bandung sekaligus mengunjungi makam kakak meskipun aku tak punya keluarga di Bandung lagi karena tante sudah pindah ke Kalimantan. Sekali lagi terimakasih dan maaf, kak. Salam hangat dari orang yang tidak bisa jadi cinta terakhirmu,


Faradila Nasyila

Senin, 27 Agustus 2012

Aku rindu kalian

Apa kabar kalian? Bagaimana dengan sekolah barunya? Apakah guru - guru disana mengajarnya membuat kalian nyaman? Kalian sudah menemukan sahabat baru? Kalian harus tahu,  bahwa aku rindu kalian. Aku rindu dimana saat kita selalu bersama. Satu sekolah. Satu kelas. Berbagi canda, tawa, suka, duka, cerita dan pengalaman. Aku rindu dimana saat kita selalu bermain setiap pulang sekolah, mengerjakan tugas bersama bahkan berbagi makanan bersama.

Mana kalian yang dulu? Sungguh aku begitu merindukan kalian yang selalu ada di sisiku setiap saat. Aku pikir setelah kita tidak satu sekolah lagi, kita masih tetap bisa dan sering sekali untuk bermain bersama. Tapi ternyata tidak. Kalian begitu sibuk dengan dunia kalian yang sekarang. Begitupun aku. Setiap kita membuat janji, selalu saja ada yang tidak bisa ikut bertemu karena ia sudah punya acara dengan dunianya yang sekarang.

Saat aku melihat foto kita dari awal mulai bersahabat, rasanya aku ingin menangis dan ingin sekali mengulang semua itu dari awal. Aku ingin menikmati masa-masa itu bersama kalian lagi. Aku butuh kalian sekarang. Tapi sekarang kalian dimana? Bisakah kalian menyusulku? Bisakah kalian luangkan waktu untukku sebentar saja? Atau untuk kita? Untuk persahabatan kita?

Kalian telah berbeda. Kalian yang dulu dan sekarang sudah tak sama. Aku butuh kalian yang dulu. Aku sangat merindukan kalian. Apakah kalian merasakan hal yang sama? Atau bahkan tidak sama sekali? Apa kalian mengerti persaanku sekarang yang sangat membutuhkan kalian? Semoga saja kalian mengerti.

Untuk kalian sahabatku, baik-baik di dunia baru yaaa. Jangan sampai kalian terjebak oleh kejahatan dunia kalian yang baru. Aku di sini akan selalu merindukan kalian. Dan aku akan selalu mendoakan agar kalian baik-baik saja. Miss you so much, guys! Love you!

Jumat, 03 Agustus 2012

Melepas masa putih biru

Begitu sulit aku melepaskan masa putih biru, karena di masa putih biru ini telah terjadi banyak kejadian yang telah menjadi kenangan. Mungkin aku akan terus selalu mengenang masa-masa putih biru. Apalagi di saat aku tertawa bersama teman-teman seperjuangan. Di masa putih biru ini, aku mendapatkan banyak pelajaran. Dari mulai mencari ketidak tahuan, mencoba segala hal, dan akhirnya mencari jati diri. Masa-masa ini sangat berkesan dalam hidupku. Oiya, di masa putih biru ini aku punya salah satu ekstrakulikuler yang aku sayangi yaitu Paskhara. Di Paskhara aku didik, dilatih, dibina, dan belajar disiplin. Di Paskhara pun aku di ajarkan tatakrama dan aku juga telah mendapatkan pelajaran yang banyak. Suka duka di masa putih biru begitu terasa, dan hingga saat ini suka duka itu masih menjadi cerita dan sebuah pelajaran yang selalu aku banggakan. Saat aku melepas masa putih biru, sungguh sulit dan begitu menyakitkan. Tapi apadaya, waktu terus berjalan dan aku harus melepas masa putih biru ini. Dan akhirnya aku melangkah untuk menghadapi masa putih abu-abu, yang katanya akan lebih banyak pengalaman daripada masa putih biru. Semoga saja omongan itu benar, tapi semoga juga pengalaman yang baru ini tidak melunturkan pengalaman lama yang telah aku lewati, aamiiinn

Kamis, 28 Oktober 2010

Perkenalan

Hallo! Nama aku Dhea Aufara Salsabilla Yusuf. Sekarang umurku 13 tahun. Aku baru ngerti tentang blog nih. Aku harus banyak belajar lagi. Oh iya, di blog ini aku bakalan nulis semua cerita yang ada di kepala aku. Tapi karena masih belajar, maaf ya kalau banyak salahnya. Hehehe. Mohon bantuannya ya. Terimakasih :)